CERITA FIKSI

                                “Buku Ajaib”



Langit sore itu tampak muram. Awan gelap menggantung rendah, menandakan hujan akan segera turun. Di sebuah desa kecil bernama Lembayung, tinggal seorang gadis bernama Nara. Ia dikenal pendiam dan lebih suka menyendiri, menghabiskan waktu di tepi sungai dekat hutan, membaca buku tua warisan ibunya.


Hari itu, seperti biasa, Nara duduk di atas batu besar yang menghadap sungai. Ia membawa buku yang belum pernah ia baca sebelumnya, bersampul kulit berwarna biru tua tanpa judul. Ketika dibuka, halaman pertamanya kosong. Tapi di halaman kedua, muncul tulisan yang tak dikenalnya. Tulisan itu menghilang setiap kali ia berpaling, lalu muncul kembali begitu ia menatapnya.


“Jika kau membaca ini, maka kau telah dipilih.”


Nara bingung, mengira dirinya sedang lelah. Namun halaman demi halaman berisi petunjuk aneh, tentang perjalanan menuju sebuah tempat bernama “Cahaya Senja” konon tempat di mana segala keinginan bisa terwujud, tapi hanya jika dibayar dengan sesuatu yang berharga.


Penasaran dan merasa terikat pada pesan misterius itu, Nara mengikuti petunjuk yang tertulis. Ia berjalan ke dalam hutan, mengikuti jalur yang tak pernah ia lewati sebelumnya, jalanan yang menurutnya sangat lah asing baginya. Hujan mulai turun, ringan lalu semakin deras. Namun langkahnya tak berhenti.


Di tengah hujan dan kabut, ia menemukan sebuah pohon tua, jauh lebih besar dari pohon lain di sekitarnya. Di batang pohon itu tertulis ukiran yang sama seperti di buku. Ketika Nara menyentuhnya, dunia di sekelilingnya berubah. Ia tak lagi berada di hutan, melainkan di sebuah padang rumput yang diterangi cahaya senja abadi.


Di sana, seorang wanita tua duduk di kursi kayu, tersenyum padanya. “Selamat datang, Nara,” katanya. “Kau telah menemukan Cahaya Senja. Tapi apa yang ingin kau wujudkan?”


Nara diam. Ia berpikir akan meminta kehidupan yang lebih mudah, atau keluarganya kembali. Tapi entah kenapa, ia justru menjawab, “Aku ingin tahu kenapa aku dipilih.”


Wanita tua itu menatapnya lama, lalu menjawab, “Karena kau mencari, bukan meminta. Dan karena kau berani.”


Tiba-tiba, cahaya senja itu mulai memudar. Nara kembali berdiri di tepi sungai, basah kuyup oleh hujan yang kini mereda. Buku di tangannya kosong. Namun hatinya penuh kekecewaan karena ia masih belum mengerti arti dari semua ini. Nara dengan keberanian untuk terus mencari agar semua keanehan ini dapat menjawab isi hatinya itu.


Sejak hari itu, Nara tak lagi sama. Ia tetap menyendiri, tapi bukan karena takut, melainkan karena ia tengah menulis kisahnya sendiri, satu halaman demi satu halaman, di dunia yang baru saja ia sadari, penuh dengan keajaiban tersembunyi.


Nara masih berfikir bahwa kejadian sebelumnya itu hanyalah mimpi yang melintas sejenak, namun buku itu nyata adanya di tangan Nara. Ia masih mengingat kejadian itu hingga sekarang. 


Nara berkata, "Jika memang buku ini ajaib, aku ingin tahu lebih dalam tentang buku ini."

Comments

Popular posts from this blog

Artikel Tentang Perbedaan Antara Data dan Fakta

Artikel Tentang Bagaimana Dampak Globalisasi

Artikel Tentang Bagaimana Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi